Masih ingat nggak, dulu zaman SMA, energi kita kayak nggak ada habisnya? Pulang sekolah main basket, malamnya nongkrong di warung kopi, besoknya masih segar bugar ikut upacara. Sekarang? Baru meeting online seharian saja rasanya punggung mau copot. Tapi anehnya, ada satu hal yang nggak pernah luntur: semangat buat "main" bareng sahabat lama.
Itulah yang ada di kepala saya (Hilfan), Hendra, dan Upray beberapa minggu lalu. Di tengah obrolan grup WhatsApp yang isinya cuma "wacana, wacana, dan wacana", akhirnya kami bertiga nekat. "Bro, nanjak yuk? Yang deket-deket aja, yang penting keringetan bareng," kira-kira begitu bunyinya.
Dan "deket-deket" itu membawa kami ke sebuah petualangan kecil yang epik, sebuah reuni tipis-tipis angkatan '98 di atap Bandung.
Kenapa Harus Gunung Palasari?
Jujur, pilihan jatuh ke Gunung Palasari di kawasan Bandung Timur ini lebih karena faktor "realistis". Usia sudah kepala empat, dengkul udah nggak se-ori dulu, dan stamina... yah, tahu sendirilah. Kami butuh trek yang menantang tapi tidak membunuh, yang pemandangannya indah tapi nggak perlu cuti seminggu.
Gunung Palasari, dengan puncaknya di 1852 MDPL (meter di atas permukaan laut), adalah jawaban sempurna. Cukup untuk membuat napas jadi Senin-Kamis, tapi juga cukup untuk memberikan rasa pencapaian yang luar biasa.
Perjalanan dimulai pagi buta. Udara dingin Lembang (atau Jatinangor, tergantung rute yang dipilih) yang dulu jadi teman nongkrong, sekarang jadi penanda dimulainya perjuangan. Bukan lagi berburu sarapan bubur ayam, tapi berburu sunrise dan ketenangan.
Trek Menuju Puncak: Tanjakan, Candaan, dan Kesadaran
Mendaki di usia 40-an itu beda banget, bro. Dulu mungkin kita balapan lari ke puncak. Sekarang? Setiap 15 menit ada saja alasannya untuk berhenti. "Eh, bentar, fotonya bagus nih di sini," padahal aslinya mau atur napas. "Eh, minum dulu, bro, biar nggak dehidrasi," padahal jantung udah disko.
"Obrolan kami di sepanjang trek bukan lagi soal gebetan atau PR Kimia. Sekarang topiknya ganti: cicilan KPR, tagihan sekolah anak, dan rekomendasi tukang urut yang bagus buat asam urat."
Tapi di antara napas yang tersengal dan keringat yang bercucuran, ada sesuatu yang magis. Kami kembali menjadi diri kami yang dulu. Hendra yang selalu jadi navigator (meski kadang sotoy), Upray yang jadi tukang lawak pencair suasana, dan saya... mungkin saya yang paling sering minta istirahat.
Hutan tropis yang lebat, suara serangga, dan sesekali kabut tipis yang turun seolah menjadi mesin waktu. Lupa sejenak sama kerjaan, lupa sama deadline. Yang ada hanya langkah kaki, suara tawa, dan punggung teman di depan sebagai penanda tujuan.
Akhirnya Puncak! Pelajaran dari Sebuah Papan Biru
Dan akhirnya, setelah perjuangan yang terasa (agak) heroik, kami sampai juga. Lihat saja foto di atas. Muka kucel, baju basah keringat, tapi senyumnya tulus. Di belakang saya ada dua papan yang jadi saksi.
- Papan Biru di Pohon: PUNCAK PALASARI - 1852 MDPL. Angka itu bukan sekadar ketinggian. Bagi kami, itu adalah bukti bahwa semangat '98 belum padam. Bukti bahwa meski raga tak lagi prima, tekad kami masih bisa membawa kami ke tempat-tempat luar biasa.
- Papan Putih di Kanan: BAWA KEMBALI SAMPAHMU!!!. Ini tamparan sekaligus pengingat. Dulu mungkin kita cuek, buang sampah sembarangan. Sekarang, di usia yang lebih matang, kami sadar betul arti tanggung jawab. Gunung memberi kita kedamaian, masa kita balas dengan sampah? Pelajaran sederhana tapi mendalam: tinggalkan jejak yang baik, di mana pun kita berada.
Berdiri di puncak, memandang hamparan hijau di bawah, rasanya semua lelah terbayar lunas. Kami tidak menaklukkan gunung; kami menaklukkan keraguan diri sendiri.
Sebuah Pesan untuk Angkatan '98 dan Persahabatan yang Tak Lekang Waktu
Perjalanan turun selalu terasa lebih cepat, ditemani obrolan tentang rencana selanjutnya dan tentu saja, perut yang sudah keroncongan minta diisi nasi timbel.
Pendakian ke Palasari ini lebih dari sekadar aktivitas fisik. Ini adalah tentang investasi. Bukan investasi saham atau properti, tapi investasi pada persahabatan. Di tengah kesibukan kita sebagai ayah, ibu, profesional, atau pengusaha, meluangkan waktu untuk hal-hal seperti ini adalah kemewahan yang wajib kita ciptakan sendiri.
Untuk semua teman-teman Alumni SMA 23 Bandung Angkatan '98 di mana pun kalian berada, foto ini adalah panggilan. Bukan untuk pamer, tapi untuk menginspirasi. Mungkin bukan gunung, bisa jadi hanya sekadar ngopi bareng, main futsal, atau makan malam.
Kapan terakhir kali kamu tertawa lepas bersama sahabat SMA-mu?
Mari kita buat "wacana" di grup WhatsApp
Sampai jumpa di reuni selanjutnya, entah di puncak gunung mana lagi atau sekadar di warung kopi langganan.
Salam hangat dari ketinggian 1852 MDPL!
#Reuni98 #SMA23Bandung #GunungPalasari #HikingBandung #FriendshipGoals #NostalgiaSMA #CeritaPendaki
Social Footer